Laut Aceh Terancam Rusak Jika kita tidak Bertindak

Laut Aceh terancam rusak, Perlu Langkah Serius Untuk Menyelamatkannya.
Coral Bleaching, Sampah, Bom & Racun Ikan, Adalah beberapa masalah yang merusak laut kita.

Perairan Pulo Tengkorak (Dokumentasi 2016)

Seruput kopi sambil berbagi cerita saya lakukan bersama pemilik usaha Aloha Ikan Bakar yaitu Bang Bedy Driwanto. Beliau membuka usaha ikan bakar sejak tahun 2018 dan sekarang bekerja sama dengan The Energy Cafe dalam menyajikan menu laut yang lezat dan mengenyangkan. Bang Ogem (panggilan sehari2 beliau) adalah sosok yang bekerja keras dan selalu memikirkan inovasi dalam mencari penghasilan. Beberapa tahun menjalani kehidupan sebagai spearo (pemanah ikan), awalnya hanya mendapatkan pemasukan dari menjual ikan saja ke agen-agen dengan harga yang terbilang rendah, Selanjutnya menjual ikan segar yang sudah dibersihkan, langsung ke konsumen dengan harga pasar (disini beliau mendapatkan tambahan penghasilan karena harga sedikit lebih tinggi daripada harga jual ke agen). Hingga mengambil peluang membuka usaha ikan bakar pinggir jalan dan mendapatkan harga jual terbaik untuk ikan hasil tangkapan beliau.

Perairan Pulo Tuan (Dokumentasi 2016)

Tulisan diatas adalah paragraf singkat tentang sosok bang Ogem. Nah pada kesempatan malam ini, saya dan bang Ogem berbagi ide tentang bagaimana cara kita menjaga laut agar bisa tetap memberikan hasil kepada manusia, terutama laut Aceh Besar yang menjadi tempat pencaharian nelayan-nelayan Aceh Besar dan Banda Aceh. Masalah apa yang menjadi perbincangan kami? Ada beberapa hal, diantaranya adalah pengeboman ikan, tapi kata Bang Ogem, kegiatan ini sudah banyak berkurang karena jumlah ikan yang berkerumun di permukaan memang sudah jarang terlihat. Hal ini bisa jadi karena banyaknya karang yang mati dan rusak karena bom. Selanjutnya masalah racun ikan yang juga menjadi penyebab rusaknya habitat sehingga ikan tidak mau lagi menempati lokasi yang telah diracun. Dan yang terakhir adalah masalah nyelam menggunakan kompressor, kegiatan ini biasanya dibarengi dengan bom ikan atau racun ikan. Karena ikan yang kena bom di kedalaman tertentu, tidak akan naik ke permukaan sehingga harus dikutip oleh penyelam. Dan cara mudah dan berbahaya untuk menyelam adalah dengan menggunakan kompressor tanpa mengetahui dasar-dasar ilmu Scuba Diving. Selain bom dan racun, tim Bang Ogem juga pernah melihat penyelam kompresor yang menggunakan speargun, berjalan mengendap-ngendap didasar lautan tanpa menggunakan kaki katak (fins).
Ujong Peuneu 2020

Sebagai penikmat alam yang suka menyelam, saya hanya bisa mengkampanyekan lewat tulisan dan postingan social media, mudah-mudahan ada yang mau ikut bergerak berkampanye sehingga mendapat perhatian dari yang memiliki jabatan di negri syariat islam ini. Bang Ogem dan kawan-kawan spearo pun memiliki harapan yang sama. Kita berharap laut tetap terjaga, karang-karang tetap berwarna, ikan-ikan selalu tersedia, nelayan pinggiran tidak susah lagi dalam mencari makan, pelaku wisata laut Aceh Besar pun bisa diberdayakan. Bagaimana dengan teman-teman? mari kita dukung sehingga mempermudah saudara-saudara kita dalam mencari rejeki dan mudah-mudahan kampanye ini sebagai amal jariyah bagi kita semua.

Bayangkan saja, seandainya aktifitas racun ikan, bom ikan tidak dilakukan lagi, insyaallah laut akan segera melakukan proses memperbaiki diri. Kita bisa bantu dengan cara menanam karang, membasmi predator karang agar proses perbaikan laut berlangsung lebih cepat dan ikan kembali ke pesisir dalam waktu dekat dan nelayan pinggiran pun mudah mencari rejekinya. #StopBomIkan #StopRusakKarang #JanganBuangSampahSembarangan #PakaiOtakSebelumLiburan

Tidak ada makluk cerdas yang mau merusak rumahnya sendiri
Sebagai Khalifah, marilah kita jaga bumi kita ini
 

Karang Pulo Tuan
Dokumentasi 2019