Separah apakah laut kita jika kita berhenti peduli?


Bagi penyelam, laut adalah aset yang sangat penting. Scuba diver, freediver, spearo harus punya kontribusi positif dalam kegiatan melestarikan laut. Tidak buang sampah sembarangan, selektif dalam menembak ikan, tidak pijak/merusak karang, dan kampanye jaga lingkungan adalah hal kecil yang bisa kita lakukan. Insyaallah dengan hal kecil ini akan membawa perubahan besar bagi diri kita dan komunitas. Minimal bisa merubah kebiasaan yang sebelumnya abai menjadi lebih peduli.

Salah satu hal paling kritis yang kita sebabkan terhadap kerusakan laut kita adalah masalah sampah. Sebagai negara penyumbang sampah terbanyak nomor dua di dunia, kita harusnya malu dengan kebiasaan buruk bangsa kita. Kita harus memaksa diri untuk berubah menjadi lebih baik. Akibat kebiasaan buruk kita, banyak makhluk terzalimi, mulai dari hewan-hewan yang terjebak sampah yang kita buang sembarangan hingga terumbu karang yang menjadi sepi karena jaring yang tersangkut disana. Pengalaman beberapa bulan yang lalu, admin melakukan spearfishing di Ujong Kareung Aceh Besar, di salah satu area di perairan ujong kareung, terbentang jaring selebar 7 meter tersangkut di karang. Area tersebut memang tampak sepi dan tidak banyak ikan. Saat tiba di darat, admin ceritakan ke 2 orang warga setempat, salah satunya mengatakan, jaring itu harus diangkat, ikan gak mau kembali ke area itu karena akan terganggu dengan suara jaring yang digerakkan oleh air. Kalau kejadiannya sudah seperti ini, siapa yang rugi? (Semoga yang masi menjaring ikan bisa lebih mengerti dan hati2. Saran admin, beralih ke spearfishing aja! hehehe). Teman teman ada yang tau tentang hal ini? benarkah jaring itu jadi penyebab area itu sepi? Bantu share pengalaman kalian yaaa ^_^

Selanjutnya kita juga harus peduli dan ambil bagian dalam gerakan pengendalian hama di lautan. Dalam hal ini, Meugap Community tidak punya keahlian jika tidak diberikan arahan. Maka dari itu, penting untuk menjalin silaturrahmi dan kerjasama dengan berbagai lembaga konservasi. Seperti pengendalian hama COTs(Crown of thorns starfish) dengan cara menyuntikkan cuka, yang dilakukan teman2 komunitas di Pulo Tuan, Ujong Pancu Aceh Besar. Kegiatan ini bisa berlangsung karena ajakan dari teman-teman komunitas lain yang fokus pada bagian konservasi. Dari kegiatan itu, tim penyelam bisa menyuntikkan cuka ke lebih dari 200 ekor COTs yang ada di area kurang dari 1km persegi. Dokumentasi kegiatannya bisa dilihat di Video diatas. 

COTs adalah hama yang menjadi bagian dalam kehidupan ekosistem karang, hewan ini bisa terkendali pertumbuhannya jika predatornya tidak diburu. The giant triton snail (Charonia tritonis), the stars and stripes pufferfish (Arothron hispidus), the titan triggerfish (Balistoides viridescens), and the humphead maori wrasse (Cheilinus undulates), beberapa hewan itu adalah predator alami COTs, dan diantara predator itu, ada yang masi diburu oleh manusia. (Referensi) Karenanya, marilah kita menjaga alam ini supaya tetap bisa dinikmati hingga anak dan cucu kita. Lebih selektiflah dalam memilih buruan agar tidak mengganggu keseimbangan. Jika kita berhenti peduli, ekosistem tidak terkendali, perlahan-lahan ikan yang akan kita makan pun akan susah dicari.